Perempuan Sasak Lombok Tengah Angkat Bicara Soal Polemik Nama BIL | "Sembek Ulang" -->

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

deskripsi gambar

Perempuan Sasak Lombok Tengah Angkat Bicara Soal Polemik Nama BIL | "Sembek Ulang"

11/17/19

Foto : Lutfatul Azizah M.Hum ( Dosen muda Fakultas Ushuluddin UIN MATARAM)  

Lutfatul Azizah | Berbicara masalah  brand untuk melengkapi jualan wisata halal memang sangat iconic sekali jika nama bandara menjadi ZAM. Hal itu kemudian dapat mendorong munculnya wisata-wisata religi di pulau seribu masjid ini untuk lebih mendifinisikan lagi wisata halal yang menjadi jualan NTB beberapa tahun ini. Apalagi didukung dengan sosok pendiri organisasi agama terbesar di NTB (sebut NW) di nobatkan menjadi pahlawan nasional maka akan lebih meningkatkan daya jual wisata halal di NTB.

Namun jika berbicara masyarakat Lombok sendiri tidak hanya ada NW.  Disini ada beberapa organisasi agama lainnya yang juga punya masa yang tidak sedikit.

Selain itu, apa manfaatnya juga jika kemudian bandara berganti nama menjadi ZAM, baik untuk daerah maupun keorganisasian NW sendiri apakah kemudian bandara akan berkontribusi terhadap keorganisasian NW baik dalam bentuk financial atau kerjasama sumber daya minimal. Bayangan saya kemudian akan ada kerjasama yang dapat menguntungkan diantara keduanya (organisasi NW dengan pihak bandara).

Kalau dilihat dari segi sosok Tuan Guru Zainuddin Abdul Majid pun beliau merupakan sejatinya pahlawan nasional yang memiliki jasa yang sangat besar terhadap kemerdekaan Indonesia dan juga kemerdekaan masyarakat Lombok khususnya. Beliau juga merupakan guru yang sangat luar biasa, kewaliannya tidak diragukan lagi. Beliau membangun organisasi NW menjadi salah satu kapal yang akan digunakan untuk memperluas syiar agama Islam.

Saya juga salah seorang yang besar dilingkungan institusi pendidikan NW.  jadi,  saya adalah murid beliau secara tidak langsung.

Membayangkan BIL akan digantikan menjadi ZAM apakah kemudian tradisi-tradisi praktik keagamaan yang diajarkan oleh beliau akan dilakukan di bandara? Sebab banyak tradisi-tradisi baik yang dibiasakan semua lingkungan pondok pesantren nya organisasi NW.

Tapi lagi-lagi mengingat saya lebih dahulu lahir sebagai perempuan Sasak di tanah Sasak dan tidak semua orang Sasak juga mengenyam pendidikan di institusi tersebut. Maka dari itu, saya kurang setuju atas penggantian nama BIL menjadi ZAM. Sebagai bentuk penolakan "sembek ulang" (sembek: memberikan nama) nama bandara di Lombok Tengah saya sebutkan upaya itu menjadi bentuk privatisasi yang belum jelas maksud dan tujuannya bagi kepentingan orang banyak.

Bandara memang perusahaan milik PT Angkasa Pura, namun dia berdiri diatas tanah yang bukan tanah tak bertuan atau tanah yang tidak memiliki sejarah. Tanah Sasak adalah milik orang Sasak yang tidak dapat dipisahkan oleh kertas perjanjian jual beli. Orang Sasak memiliki keterikatan dengan tanah kelahirannya seperti ibu yang memiliki ikatan dengan anaknya. Jika menggunakan ekofinisme maka kita akan melihat relasi antara manusia dengan alamnya.
 "Saya menolak pergantian nama itu"