Polemik Suku Donggo Dalam Pusaran Budaya Cyber Crime -->

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

deskripsi gambar

Polemik Suku Donggo Dalam Pusaran Budaya Cyber Crime

12/21/19
Penulis : Aba Arif
Mahasiswa Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama, UIN Mataram
 

Kemajuan teknologi yang dirasakan saat ini cukup luar biasa dalam kehidupan umat manusia dan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap dinamika kehidupan sosial masyarakat, kemajuan dunia teknologi terutama pada telekomunikasi yang menjadikannya sebagai kebutuhan pokok saat ini,  dari adanya kemajuan teknologi komunikasi memberikan Dampak positif bagi dinamika kehidupan umat manusia diantaranya,  Dapat mencari dan memperoleh informasi dengan mudah dan cepat, Semakin cepat dalam hal : berkomuikasi, mencari informasi,  Dapat menghemat waktu, efisien, efektif dll. Namun,  tidak sedikit memberikan dampak negatif sepeeti, Penyalahgunaan terhadap fungsinya, terutama di bidang Komunikasi (Sos-Med), Banyak beredar informasi hoax dan lainnya.

Ahir2 Ini terjadi lagi kejahatan dalam penggunaan Media Sosial  Pasalnya terjadi sebuah perdebatan mengenai identitas sebuah suku di Indonesia, Suku Donggo Sebuah suku Asli mendiami tempat di Bima NTB tidak terhindarkan dari  budaya Cyber Crime.

Suku Donggo atau disebut juga dengan Dou Donggo adalah suku bangsa di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Suku ini merupakan kelompok penduduk asli, masyarakat Donggo yang Bermukim di pegunungan dan dataran tinggi di sebelah barat dan tenggara teluk Bima yang dikenal dengan Dou (Orang) Donggo Ipa dan Donggo Ele. Orang (Dou) Donggo Ipa bermukim di sebelah barat teluk Bima yaitu di gugusan pegunungan Soromandi. Sedangkan Dou Donggo Ele bermukim di sekitar pegunungan Lambitu. Dengan demikian, Dou Donggo Ele diartikan sebagai orang dataran tinggi sebelah timur. Sedangkan Dou Donggo Ipa berarti juga orang dataran tinggi sebelah barat teluk Bima.

Masyarakat Donggo Barat atau Donggo Ipa merupakan masyarakat Bima (Mbojo) yang mendiami wilayah pegunungan Soromandi. Masyarakat ini sering diidentikkan dengan kesaktian, kekerasan, dan keteguhan pada pendirian sebagai akibat dari sejarah kehidupan mereka yang tegas dalam melawan penjajah Belanda (misalnya, dalam Perang Kala tahun 1909 dan Perang
Mbawa tahun 1910.

Postingan akun Facebook @Wildan Riyantii II yang dianggap menghina suku Donggo, akhir-akhir ini viral dan menjadi perbincangan hangat di medsos khususnya di Facebook. Sekalipun Wildan menegaskan bahwa postingannya sama sekali tidak ditunjukan kepada suku Donggo, melainkan untuk adiknya sendiri,salannya terhadap sang adik yang dianggap keras kepala.

Status yang ditujukan kepada sang adik bukan ditunjukan kepada etnis atau suku Donggo mereka. Kesalah pahaman terjadi terjafi kala beberapa netizen mengviralkan hal tersebut . Tindakan netizen yang membagikan postingan tersebut dengan caption yang seolah-olah postingan Wildan ditujukan kepada suku donggo.

"Kejadian yang hanya kesalapahaman semata, juga didukung provokator yang langsung mengkeruhkan status dari postingan tersebut sehingga menimbulkan banyak pihak yg saling beradu argumen. Setidaknya ada dua postingan Wildan yang dianggap menghina suku Donggo pertama "Peso wekim 100 meter rauu, aip toim denim lakom donggo" jika diartikan dalam bahasa indonesia (Jauh-jauh dari saya 100 meter, jangan dekat kamu yang keras kepala) dan yang kedua "Donggo Binatang" yang diartikan dalam bahasa indonesia (Keras kepala binatang).

"Lakom Donggo artinyaa Keras Kepala kalau diartikan mrnggunakan bahasa Indonesia, tapi kalo diartikan kedalam bahasa mbojo artinyaa Lakom Saronggi.
 Sebelumnya, seorang pegawai RSUD Bima inisial ESN diduga menghina etnis Donggo. Ia memosting status bernada rasis via akun facebook miliknya. Dalam postingannya bernada bahasa Bima, ESN menulis ’Dou donggo pama mpa’a tunti dei status fb eeeeeeeeee, na hari kuba l*ko’, tulis ESN. Bila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti ’Orang Donggo saja yang tulis di status facebook, diketawain sama anj*ng’.

Sontak postingan akun tersebut mengundang komentar para netizen dan warga etnis Donggo. Mereka rata-rata mengecam dan menyayangkan postingan itu, apalagi sampai menyinggung etnis tertentu. Ada pula yang berkomentar agar postingan itu dibawa ke jalur hukum.
Ada juga Lembaga Adat Masyarakat Donggo (Lamdo) Kabupaten Dompu melaporkan akun facebook "Hilmin Kecik" ke Polres Dompu, Selasa (30/7/2019). Akun tersebut diduga telah menghina suku Donggo dengan kata-kata yang menyakitkan yaitu "Suku Donggo Anjir" Laporan tersebut disampaikan Ketua Lamdo Dompu Drs. Nasrullah M. Saleh, M.Pd sekira pukul 14.30 Wita, ditemani Sekretaris Kahar Muzakar, Wakil Ketua Drs. Masran Yasin, Mustamin, SE, dan sejumlah pengurus lain dan perwakilan pemuda dari beberapa desa. Sebelumnya tercatat telah tiga kasus dugaan penghinaan yang berbau rasisme terhadap Suku/Etnis Donggo melalui account facebook. Yakni:

Account Facebook “Fani Afnan Jannatun” (19/9/2017)
Account Facebook “Lafi Firman” (19/10/2017)
Account Facebook “Ehtoss” (viral 5/11/2017)

Kasus Wildan ini menambah daftar panjang penghinaan terhadap etnis Donggo di media sosial meski wildan sendiri telah melakukan klarifikasi terkait hal tersebut, dan bersitegang bahwa apa yang dilakukannya bukanlah maksud yang bertujuan menghina suku Donggo.