Mengenal Ragam pengucapan dalam bahasa indonesia -->

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

deskripsi gambar

Mengenal Ragam pengucapan dalam bahasa indonesia

1/5/20
Foto : Google  

Penulis_Lalu Muhamad Peri Irawan
Opini | bahasa indonesia adalah bahasa yang sangat penting dalam  kehidupan, karena tanpa bahasa kita tidak mungkin bisa berinteraksi dengan makhluk lain karena bahasa adalah penggerak kehidupan. apabila dilihat dari pentingnya bahasa itu sendiri, kita dapat membatasi pengertian bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat seperti simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.



begitu pula dengan simbol-simbol pergerakan pada tubuh manusia yang menjadi salah satu cara dalam penyampaian informasi, yang mana manusia akan lebih memahami suatu  penyampaian yang disertai dengan simbol gerakan tubuh.
oleh karena itu gerakan tubuh manusia menjadi bagian dari penyampain infomasi.


Akan tetapi dalam berbahasa indonesia ada beberapa macam pengucapan, yang mana pengucapan tersebut memiliki seni yang berbeda beda dalam penggunaan nya.
karena tidak semua bahasa yang baik  itu benar, dan sebaliknya. Untuk melakukannya perlu dipahami dulu apa yang dimaksud dengan baik dan benar tersebut.

Bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan situasi. Sebagai alat komunikasi, bahasa harus dapat efektif menyampaikan maksud kepada lawan bicara. Karenanya, laras bahasa yang dipilih pun harus sesuai.
Ada lima laras bahasa yang dapat digunakan sesuai situasi. Berturut-turut sesuai derajat keformalannya, ragam tersebut dibagi sebagai berikut.
1. Ragam baku (frozen); digunakan pada situasi hikmat dan sangat sedikit memungkinkan keleluasaan seperti pada kitab suci, putusan pengadilan, dan upacara pernikahan.
2. Ragam resmi (formal): digunakan dalam komunikasi resmi seperti pada pidato, rapat resmi, dan jurnal ilmia
3 .ragam konsultatif (consultative): digunakan dalam pembicaraan yang terpusat pada transaksi atau pertukaran informasi seperti dalam percakapan di sekolah dan di pasar.
4. Ragam santai (casual): digunakan dalam suasana tidak resmi dan dapat digunakan oleh orang yang belum tentu saling kenal dengan akrab.
5. Ragam akrab (intimate): digunakan di antara orang yang memiliki hubungan yang sangat akrab dan intim.

Bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa baku, baik kaidah untuk bahasa baku tertulis maupun bahasa baku lisan. Ciri-ciri ragam bahasa baku adalah sebagai berikut

Penggunaan kaidah tata bahasa normatif. Misalnya dengan penerapan pola kalimat yang baku: acara itu sedang kami ikuti dan bukan acara itu kami sedang ikuti.

Penggunaan kata-kata baku. Misalnya cantik sekali dan bukan cantik banget; uang dan bukan duit,  serta tidak mudah dan bukan nggak gampang.

Penggunaan ejaan resmi dalam ragam tulis. Ejaan yang kini berlaku dalam bahasa Indonesia adalah pedoman umum ejaan bahasa indonesia ( PUEBI). Bahasa baku harus mengikuti aturan ini.

Penggunaan lafal baku dalam ragam lisan. Meskipun hingga saat ini belum ada lafal baku yang sudah ditetapkan, secara umum dapat dikatakan bahwa lafal baku adalah lafal yang bebas dari ciri-ciri lafal dialek setempat atau bahasa daerah. Misalnya: /atap/ dan bukan /atep/; /habis/ dan bukan /abis/; serta /kalaw/ dan bukan /kalo/.

Penggunaan kalimat secara efektif. Di luar pendapat umum yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia itu bertele-tele, bahasa baku sebenarnya mengharuskan komunikasi efektif: pesan pembicara atau penulis harus diterima oleh pendengar atau pembaca persis sesuai maksud aslinya.
Dari semua ciri bahasa baku tersebut, sebenarnya hanya nomor 2 (kata baku) dan nomor 4 (lafal baku) yang paling sulit dilakukan pada semua ragam. Tata bahasa normatif, ejaan resmi, dan kalimat efektif dapat diterapkan (dengan penyesuaian) mulai dari ragam akrab hingga ragam beku. Penggunaan kata baku dan lafal baku pada ragam konsultatif, santai, dan akrab malah akan menyebabkan bahasa menjadi tidak baik karena tidak sesuai dengan situasi.